Saturday, 20 April 2019

Wahai Tuhannya Baitullah


Tuhannya Baitullah,
Segala puji-pujian buatmu
Yang mengizinkan dahi bersujud di rumah agung-Mu
Yang mengizinkan hamba mengelilingi Kaabah-Mu
Yang memberi izin hamba menyentuh dinding binaan Nabi-Mu

Tuhannya Baitullah,
Terlalu ramai hamba-hamba pilihan-Mu
Berpusu-pusu ke tempat agung
Tempat suci yang tiada hijab doa disampaikan
Menadah tangan memohon keampunan
Menyampaikan impian rakan-rakan seperjuangan

Sungguh,
Aku malu berdiri dihadapan Kaabah-Mu
Wahai Tuhannya Baitullah
Siapalah aku disisi-Mu
Hanya hamba kerdil tiada apa-apa
Yang mengharap belas ihsan dari-Mu
Yang sentiasa mendambakan
Redha, Syurga dan Wajah-Mu

Tuhannya Baitullah,
Telah kami laksanakan ibadah-Mu
Terimalah umrah kami, tawaf kami, amal ibadah kami
Berilah ketenangan, kebahagiaan dalam kehidupan kami
Telah hamba bersaksi
Segala kisah-kisah agung di dalam Kitab Al-Quran
Mengenai Nabi-Mu, Rasul-Mu dan para sahabiah
Maha Suci Tuhan
Tanah Suci Haram ini sebaik-baik tempat indah di bumi

Wahai Tuhannya Baitullah,
Moga ini bukan yang terakhir buat kami
Izinkan kami menjejakkan kaki lagi
Ditempat lahirnya Rasul-Mu ini
Tempat wahyu-wahyu diturunkan kepada Nabi-Mu
Tempat barakah penuh ketenangan
Apabila pertama kali hamba-Mu ini merasai saat memasuki Kota Rindu
Jemput kami ke sini lagi ya Rabb
Untuk kesekian kalinya,
Terima kasih atas kesempatan ini
Wahai Tuhannya Baitullah… :)


13:28
11 April 2019
Masjidil Haram, Makkah



Tuesday, 26 March 2019

Makkah Sedalam Cinta


Jika kau merindu Makkah, sesekali abaikanlah bayangan tentang gedung-gedung yang menjulang gagah, juga jam raksasa yang berdetak mengabarkan kian dekatnya sa'ah.

Tapi biarkan khayal itu menyusuri bukit-bukit yang kini bebatuannya pecah-pecah, yang di tengahnya dulu terjepit sebuah lembah. Di situlah semua bermula, dalam doa di dekat bangunan tua yang tetap terjaga bersahaja.

“Ya Rabb kami, telah kutempatkan sebagian keturunanku di lembah tak bertanaman di dekat rumahMu yang dihormati. Ya Rabb kami, agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia merundukkan cinta pada mereka, karuniakan pada mereka rizki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Mereka yang menyejarah, memulai semuanya dengan keyakinan pada Penggenggam Alam Semesta, bahwa hidup prihatin adalah agar sandaran jiwa raganya hanya kepada Allah.

Kadang ia memang duka, tapi sedalam cinta.

Bayangkanlah kecamuk perasaan seorang istri yang ditinggalkan beserta bayi merah oleh sang suami, di tempat yang harapan hidup dalam nalar manusia sungguh nihil kiranya. Tiga kali dia mengejar lelaki yang tak sanggup berkata-kata itu dengan tanya, "Mengapa kautinggalkan kami?" Dan semua baru jelas ketika dia mengganti soalan menjadi, "Apakah ini perintah Allah?"

Ya.

"Jika ini perintah Allah", begitu dia tegaskan dengan menguatkan hati, "Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami."

Perasaan imani wanita ini, yang diperjuangkan mengatasi emosi-emosi; kecewa, takut, galau, sedih, dan cemburu menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban hanifiyyah. Tanpa ucapan Hajar ini, kita tahu; lembah Bakkah tetap akan sunyi, tak ada lari bolak-balik tujuh kali dalam pendingin udara yang sejuk sekali, meski kita sedang mengenang pembuktian iman di tengah terik mentari yang memanggang pasir dan batu menyengat kaki, dengan sisa tenaga seorang wanita yang air susunya kering dan bayinya menangis kelaparan.

Duka Ibrahim yang berulang, ketika buah hati sibiran tulang yang dinanti hingga menua harus ditinggalkan, lalu ketika dia tumbuh gagah membanggakan harus disembelih, adalah duka sedalam cinta.

Jika nanti kau mengunjungi Makkah, sesekali palingkanlah wajah dari toko-toko yang megah dan barangan yang mewah, dan beralihlah menatap pasir-pasir dan debunya yang kini lebih kerana pembangunan di mana-mana.

Sebab dalam suasana itu, Sumayyah menemui syahadah, Yasir disalib, Bilal diseret ke tengah gurun, ditindih batu di atas pasir membara, dan dicambuk hingga pemecutnya kelelahan. Sebab dalam sesak itu, Khabbab pernah diselongsong di atas api pembakar besi, hingga cairan yang menetes dari lepuhan punggunglah yang memadamkan nyalanya.

Dalam gerah ini pula, Sang Nabi menangis dan berkata, "Duhai Makkah, sungguh engkau adalah bagian bumi yang paling dicintai Allah, maka kamipun sangat mencintaimu.. Seandainya bukan karena kaumku mengusirku darimu, aku takkan pernah meninggalkanmu.."

Jika kau nanti menjadi tamu Allah, sesekali pejamkan matamu dari kilau gemerlap lampu-lampunya, kecerlangan marmer dan granit berukir-ukir. Lalu bacalah talbiyah dengan penghayatan orang-orang yang dipanggil Ibrahim lalu datang berjalan kaki atau menaiki unta-unta kurus dalam perjalanan berbulan-bulan dari lembah-lembah yang dalam.

Lalu mari mengenang dua uswah hasanah itu dalam doa rindu, "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad. Kama shallaita 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim."

Mereka yang menyejarah, selalu rindu kepada Makkah, menghayati duka sedalam cinta..



-Salimafillah-





Sunday, 24 February 2019

Baitul Makmur





Bait al-Makmur (Arab البيت المعمور, Al Baytul Ma'mur) adalah Kabah penduduk langit sebagaimana Kabah di bumi sebagai pusat ibadah penduduk bumi. Menurut Ibnu Abbas bahwa Baitul Makmur adalah rumah disekitar Arsy yang dikelilingi oleh para malaikat

Lafadz Baitul Makmur disebutkan Allah dalam Quran surat At-Thur.


“...dan demi Baitul Ma’mur, dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (At-Thur: 4-6)

Karena itulah, Allah jadikan tempat ini sebagai sumpah-Nya, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas, “Demi Baitul Makmur...,” dan umat Muslim meyakini bahwa makhluk yang Allah jadikan sebagai sumpah adalah makhluk yang mulia, yang menunjukkan keagungan Sang Penciptanya, dan hanya Allah saja yang boleh bersumpah atas makhluknya, sedangkan makhluk seperti manusia, jin dan lain-lainnya, dilarang untuk bersumpah ditujukan selain kepada Allah. Jika ada yang melanggar dan ia telah mengetahui hukumnya, maka ia dihukumi dengan kekufuran dan kesyirikan.

Letak dan posisinya

Ketika peristiwa Isra Mi'raj, Nabi Muhammad telah melihat Baitul Makmur yang berada di langit ketujuh.

Baitul Makmur dikatakan letaknya sejajar dengan Kabah penduduk bumi. Penjelasan lain menjelaskan lebih detail bahwa letaknya ada di langit ke-7, tepat diatas Kabah penduduk bumi.

Beberapa pendapat

Ada beberapa pendapat mengenai tafsir Baitul makmur menurut Fakhruddin Ar-Razi rahimahullah, ia berkata bahwa Baitul Makmur, maka ada beberapa pendapat diantaranya adalah:
Rumah di langit yang tertinggi di dekat ‘Arsy, disifati dengan “makmur” karena banyaknya yang melakukan thawaf dari golongan malaikat.

Baitullah Al-Haram (Ka’bah) yang di penuhi oleh jemaah haji yang thawaf dan i’tikaf
Baitul Makmur dengan menggunakan “Lam ta’rif Al-Jinsi”. Seakan-akan Allah bersumpah dengan rumah-rumah (misalnya ka’bah) yang diramaikan/dimakmurkan dan bangunan-bangunan yang terkenal.


اللهم ارزق كل مشتاق عمره قريبه. امين يا الله...


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...